Mari Berfikir : Kritik Terhadap Afi


Menyambung salah satu pokok pembahasan yang terdapat dalam artikel "Sosok Muda : Asa Firda Nihaya" dimana aku disana membahas tentang menjadi Afi. Buat yang belum baca artikelnya silahkan dapat dibaca dengan cara klik disini. Jadi dalam post ini aku ada sebuah pernyataan yang mungkin sedikit kurangnya akan membuat sebagian kita mulai berfikir.

"Sosok Afi, memang sudah tidak diragukan lagi kemampuan menulis dan daya berfikir kritisnya. Terlebih dengan bahan bacaan yang tidak dapat dikatakan sedikit, referensi - referensi yang ia gunakan tentu sudah tidak dapat diragukan lagi. Kehadirannya dalam sosok publik figure muda bertalenta di Indonesia, mampu menarik perhatian banyak orang yang haus akan sosok muda tersebut. Keinginan untuk memiliki seorang anak ataupun mengubah diri sendiri menjadi sosok Afi pun perlahan - lahan muncul ke permukaan dengan banyaknya orang yang membicarakan kehebatannya.

Tepat pada tanggal 29 Mei 2017 lalu, dalam sebuah talkshow kebangsaan saya mendapati banyak sekali ternyata penggemar dan pihak yang memberikan dukungan kepada Afi. Hampir tidak pernah ada yang hadir disana memberikan kritikan ataupun hujatan sebagai penyeimbang. Afi sendiri yang sebenarnya tidak ingin akan ketenaran, ia terpaksa harus menghadapi yang selama ini ia hindari. Berkunjung ke ranah akademisi dan para pemangku kebijakan, Afi sebagai seseorang yang memiliki keberanian dan daya pikir kritis, bahkan dengan mudahnya untuk memberikan komentar kepada salah satu Guru Besar di Universitas Gadjah Mada untuk kembali membaca buku pelajaran Sejarah Sekolah Dasar. Tentu bagi saya itu adalah hal yang sangat patut dibanggakan bahwa telah lahir sosok aktivitis muda yang berbakat. 

Mengukur telah banyaknya komentar pedas dan komentar manis dari seantero dunia maya akan tulisannya yang berjudul "Warisan", rasa - rasa kekhawatiran saya pun muncul melihat tipikal masyarakat Indonesia yang tergolong fanatik akan sesuatu yang luar dari kebiasaan. Mungkin kisruhnya pilkada DKI Jakarta beberapa waktu silam dapat menceritakan tentang bagaimana masyarakat Indonesia menjadi fanatik akan sosok yang luar dari kebiasaan "Ahok". Doa saya mudah - mudahan "Afi" ini tidak menjadi "Ahok" kedua yang dengan terpaksa dibungkam oleh tirani penguasa.

Seribuan atau Jutaan orang yang mendukung Afi tidak akan berarti apabila ada satu atau dua pihak penguasa yang ingin ia untuk disingkirkan, dan hal itu mungkin akan terjadi apabila masyarakat kita terus mengagung - agungkan dirinya sebagai sosok juru selamat sementara di tanah air kita ini. Tentu bukan dengan penjara ataupun fitnah kejam mereka (baca : Penguasa) menyingkirkan Afi, ada banyak cara untuk menyingkirkannya salah satu diantaranya adalah memberikan Afi beasiswa dan Afi dipaksa menjadi sosok yang harus patuh akan perintah penguasa. 

Terakhir, saya menangkap hadirnya Afi ini hampir menjadikan beberapa orang tua ingin anaknya berprestasi atau mungkin lebih tepatnya terkenal seperti dirinya. Segeralah ambil kaca dan lihatlah pada diri anda, apakah anda (sebagai orang tua) sudah mencontohkan hal yang Afi lakukan kepada anak anda ? adilkah ketika orang tua hanya menyuruh tanpa bertindak untuk anak mereka. Kalau orang tua tidak bisa mencontohkan, lebih baik lepas saja dan biarkan anak tersebut ingin menjadi apa ketika ia dewasa nanti."

Komentar

Postingan Populer