Sosok Muda : Asa Firda Nihaya
Kondisi di Indonesia sedang tidak baik - baik saja, banyak permasalahan yang silih berganti muncul kepermukaan. Dari mulai isu percintaan, agama, ulama, hingga tentang ke bhinnekaan. Isu yang ringan hingga isu yang sulit untuk dicari kebenarannya. Lantas bagaiamana aku, yang masih merupakan bagian dari Warga Negara Indonesia. Aku sebagai orang yang setiap hari Berbahasa Indonesia (dan Bahasa Jawa sebenarnya), yang masih menggunakan rupiah sebagai alat untuk membeli pakaian, yang masih merasa bangga apabila ada Tim Nasioanal Sepak Bola Indonesia berhasil mengalahkan Tim Nasional Sepak Bola Malaysia dengan skor 2 - 0. Dimanakah posisi ku seharusnya ? berada di pihak yang memutuskan dengan dalil tanpa menghiraukan ke Bhinnekaan atau berada di pihak yang merasa Bhinneka tetapi tidak menghargai perbedaan ?
Berangkat dari AFI ( Asa Firda Nihaya )
Ramenya pesta demokrasi di Jakarta sekiranya terdengar sampai ke sudut desa di kawasan Banyuwangi. Penghargaan dan hinaan dari para simpatisan calon mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama, yang begitu lantang dengan dukungan corong media, nampaknya sedikit menggelitik salah seorang Siswa Sekolah Menengah Atas yang bernama Asa Firda Nihaya. Sekilas tentang Afi, ia merupakan manusia biasa yang tinggal di desa yang biasa saja dan berasal dari keluarga sederhan, namun memiliki pemikiran yang tidak biasa atas kegelisahan bangsa.
Udah banyak kok media yang memberitakan Afi ini, kalau dirasa bingung mana media yang memberitakan dengan netral ga usah khawatir, karena semua pemberitaan tentang Afi ini belum dimodifiskasi untuk kepentingan politik dan sebagainya.
untuk yang pengen tau hobbinya Afi
kehidupan Afi di jagad maya
asal muasal kenapa Afi menjadi viral
http://regional.kompas.com/read/2017/05/19/22440051/sering.diancam.afi.akan.tetap.terus.menulis
respon Afi terhadap yang mengancamnya.
Semoga dari link - link berita di atas tidak terdapat modifikasi konten seperti halnya media online sebelah.
Udah pada kenalan kan sama Afi ? nah balik lagi ke pembahasan. Hadirnya sosok Afi ini tidak lain merupakan bagian dari skenario konflik pada umumnya. Gimana tuh skenario konflik ? jadi skenario konflik itu menegaskan bahwa konflik akan selalu berhasil diredam apapun bentuk dari konflik tersebut oleh pihak - pihak yang awalnya tidak ingin terlibat namun pada akhirnya mereka terlibat.sebagai penengah. Inget ya bukan dihilangkan tapi diredam, karena pada dasarnya konflik itu sama seperti energi dimana ia bersifat kekal. Kemunculan Afi kepermukaan tampaknya menjadi angin segar bagi golongan yang sudah muak dengan berbagai macam ketidak harmonisan di negara ini.
Bung, Kalo ente sendiri gimana memandang sosok Afi ?
Jadi jujur aja ketika ada isu soal viralnya tulisan dari salah seorang anak SMA sampai akun Facebooknya kena suspend, hal yang pertama aku kira adalah
"Oh mungkin semacam netizen kemaren sore yang (lagi) muncul dengan sok bijak menjadi pahlawan di media sosial, apalagi baru masih SMA."
Oke itu jujur first impreesion yang terlintas dibenak ku dan akibatnya, ya aku menjadi tidak mengikuti pemberitaan seorang Afi ini. Sampai pada hari ini (Senin, 29 Mei 2017) saat kampusku tercinta, Universitas Gadjah Mada, mengundang Afi untuk hadir dalam sebuah diskusi kebangsaan. Kombinasi rasa penasaran dan rasa kegabutan menarik diriku untuk mengunjungi acara tersebut. Berharap aku bisa mengetahui informasi soal Afi langsung dari dirinya sendiri tanpa ada campur tangan media yang memberitakannya.
Banyak poin yang menjadi catatan ku dalam diskusi kebangsaan tersebut, dari sekian poin itu adalah dimana Afi ini sendiri merupakan sosok yang inspirasional walaupun tidak didukung dengan prestasi akademik yang wah. Kegemarannya membaca buku sejak SD dan konsisten hingga saat ini membuat ku kagum, walaupun cuma dari membaca buku tapi menjaga konsistensi merupakan sebuah prestasi yang dapat disandingkan dengan gelar juara OSN tingkat nasional. Selain membaca, konsistensinya untuk menulis pun juga patut mendapat sorotan hadirnya anak desa dari keluarga sederhana tetapi memiliki kegiatan yang luar biasa. Disadur dari perkataan Afi sendiri pada dialog hari ini, bahwa tulisannya sudah ada sekitar 500 lembar terhitung dari ia mulai aktif menulis di buku dairy ketika SD. Sebuah info yang menarik lagi ia barusan putus oleh pacarnya di bulan Februari... jadi artinya
Oke bung cukup - cukup, sebelum melebar ke urusan personal. Apa pandangan ente sendiri melihat fenomena Afi ini ?
Singkat aja ya, fenomena Afi ini sendiri sebenarnya kurang baik momentumnya. Mengingat masih banyak masyarakat yang belum terliterasi dengan cukup, baik dari persoalan agama maupun persoalan politik dan kebangsaan. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi dari fenomena Afi ini perlahan - lahan akan banyak merubah pola pikir atau cara pandang masyarakat tentang ... menjadi seorang Afi.
Tidak semua akan berakhir demikian, karena beruntungnya kalian yang berfikir "Tidak akan terpengaruh" menunjukan bahwa anda sudah terliterasi dengan cukup, entah itu faktor agama ataupun faktor kebangsaaan, atau malah kedua - duanya. Lantas apa akibatnya menjadi seorang Afi ?, akan ada generasi muda ataupun generasi tua yang berlomba - lomba menjadi sosok yang berada di tengah dan berargumen di dalam kenetralannya, tetapi karena tidak dibekali dengan persiapan yang matang tentu saja akan terjadi cacat dalam konstruksi dirinya sendiri. Salah satu halnya adalah bagaimana menyikapi "pihak yang kontra", kemudian naluri "narsistik" sesaat yang dibangun oleh mereka yang mengikuti kompetisi menjadi seorang Afi ini.
Ingat, masyarakat kita adalah masyarakat yang latah walaupun berada dalam konteks yang menjunjung tinggi warisan dari Tuhan Yang Maha Pencipta, namun kelatahan dapat berakibat kecacatan dalam mengeksekusi. Seperti misalnya adalah meminta anak - anak muda kita untuk mulai membumikan kembali membaca dan menulis, padahal kemampuannya adalah olahraga ataupun bermusik.






Komentar
Posting Komentar